Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Fenomena Astronomi 2026: Supermoon, Gerhana Total, hingga Hujan Meteor

Mistar.idRabu, 24 Desember 2025 pukul 07.30 WIB
fenomena_astronomi_2026_supermoon_gerhana_total_hingga_hujan_meteor

Ilustrasi luar angkasa. (foto:shutterstock/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MIR.ID

Tahun 2026 menjadi salah satu periode paling menarik bagi pengamat langit, baik pemula maupun penggemar astronomi.

Sepanjang tahun, langit malam akan dihiasi berbagai fenomena langka dan fotogenik, mulai dari supermoon, parade planet, hujan meteor Perseid tanpa gangguan cahaya bulan, hingga gerhana matahari total.

Fenomena-fenomena tersebut dapat disaksikan di berbagai belahan dunia, termasuk sebagian wilayah Asia dan Indonesia untuk beberapa peristiwa. Mengutip laman National Geographic, berikut rangkuman peristiwa astronomi utama sepanjang 2026 yang sayang untuk dilewatkan.

1. Supermoon di Awal Tahun

Tahun 2026 dibuka dengan supermoon pada 3 Januari. Bulan purnama tampak lebih besar dan terang karena berada di titik terdekatnya dengan Bumi atau perigee. Fenomena ini semakin menarik karena terjadi berdekatan dengan Jupiter, planet terbesar di tata surya.

Tak lama berselang, pada 10 Januari, Jupiter mencapai titik oposisi, yaitu saat Bumi berada di antara Matahari dan Jupiter. Pada kondisi ini, Jupiter tampak paling terang dan besar serta dapat diamati sepanjang malam di rasi Gemini. Peristiwa serupa baru akan terulang kembali pada 2027.

2. Parade Planet

Pada pekan terakhir Februari, langit sore dihiasi kesejajaran enam planet atau dikenal sebagai planet parade. Venus, Merkurius, dan Saturnus tampak berdekatan di ufuk barat sesaat setelah matahari terbenam dan dapat dilihat dengan mata telanjang.

Sementara itu, Neptunus berada di area yang sama, namun memerlukan teleskop untuk pengamatannya. Fenomena ini menjadi momen ideal bagi pengamat langit pemula untuk menyaksikan beberapa planet sekaligus.

3. Gerhana Bulan Total

Pada dini hari 3 Maret, terjadi gerhana bulan total yang membuat Bulan tampak berwarna merah-oranye atau dikenal sebagai blood moon. Warna tersebut muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi sebelum mencapai permukaan Bulan.

Gerhana ini dapat diamati di sebagian besar wilayah Amerika, Samudra Pasifik, Asia, dan Oseania. Selain itu, gerhana bulan sebagian juga akan terjadi pada 27–28 Agustus, meski tanpa efek bulan merah sepenuhnya.

4. Aurora Lebih Kuat

Ekuinoks musim semi pada 20 Maret tidak hanya menandai durasi siang dan malam yang sama, tetapi juga sering dikaitkan dengan meningkatnya aktivitas aurora. Hal ini berkaitan dengan posisi dan kemiringan Bumi terhadap Matahari.

Kondisi tersebut diperkuat oleh siklus aktivitas Matahari yang tinggi sejak 2024–2025 dan diperkirakan berlanjut hingga 2026, sehingga peluang munculnya aurora yang lebih terang dan meluas semakin besar, terutama di wilayah lintang tinggi.

5. Venus dan Jupiter Berdekatan

Pada malam 8 dan 9 Juni, Venus dan Jupiter tampak sangat berdekatan di langit barat, hanya terpisah sekitar satu derajat. Fenomena ini dapat diamati dengan mata telanjang dan menjadi salah satu konjungsi planet paling mencolok pada 2026.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 17 Juni, kedua planet tersebut sejajar dengan Merkurius dan Bulan sabit, menciptakan pemandangan langit yang sangat fotogenik.

6. Okultasi Pleiades

Pada 7 Agustus, Bulan sabit akan melintas di depan gugus bintang Pleiades. Fenomena yang disebut okultasi ini membuat bintang-bintang Pleiades seolah “menghilang” satu per satu di balik Bulan sebelum muncul kembali menjelang fajar.

Peristiwa serupa kembali terjadi pada 27 Oktober dan dapat diamati sesaat setelah matahari terbenam. Okultasi menjadi momen penting bagi astronom untuk pengukuran posisi dan pergerakan benda langit secara presisi.

7. Gerhana Matahari Total

Puncak fenomena astronomi 2026 terjadi pada 12 Agustus, saat gerhana matahari total melintasi Samudra Arktik, Greenland timur, Islandia barat, sebagian kecil Portugal, dan Spanyol utara. Di jalur totalitas, siang hari berubah menjadi senja selama satu hingga dua menit.

Gerhana ini menjadi istimewa karena merupakan gerhana matahari total pertama yang melintasi daratan utama Eropa sejak 1999. Penggunaan kacamata atau filter matahari wajib dilakukan, kecuali saat fase totalitas.

8. Hujan Meteor Perseid

Puncak hujan meteor Perseid terjadi pada malam 12–13 Agustus. Kondisi pengamatan tahun ini sangat ideal karena bertepatan dengan fase Bulan baru. Dari lokasi gelap, pengamat berpeluang melihat hingga sekitar 90 meteor per jam.

Perseid aktif sejak pertengahan Juli hingga awal September, dengan waktu terbaik pengamatan dari tengah malam hingga menjelang fajar. Meteor sangat terang atau fireball juga berpotensi muncul selama periode ini.

9. Supermoon dan Parade Planet Akhir Tahun

Supermoon kedua muncul pada 25 November, disusul supermoon terdekat dan terbesar tahun ini pada 23 Desember. Bulan purnama akhir tahun, yang dikenal sebagai cold moon, tampak sangat dramatis saat terbit di awal malam.

Menjelang akhir Desember, deretan planet seperti Mars, Jupiter, Uranus, Saturnus, dan Neptunus dapat diamati bersamaan di langit malam. Pada 25 dan 26 Desember, Mars, Jupiter, dan Bulan membentuk garis diagonal di ufuk timur. (nationalgeographic/hm16)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN