Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Menag Nasaruddin Umar: Salat Bukan Sekadar Ibadah tapi Juga Peduli Sosial dan Lingkungan

Mistar.idJumat, 16 Januari 2026 08.43
journalist-avatar-top
menag_nasaruddin_umar_salat_bukan_sekadar_ibadah_tapi_juga_peduli_sosial_dan_lingkungan

Isra Mikraj 1447 H (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa salat memiliki makna lebih dari sekadar ibadah spiritual. Dalam sambutannya saat peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 H, Menag menjelaskan bahwa salat menumbuhkan kesadaran sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

Menurut Menag, perintah salat lima waktu yang diterima Rasulullah SAW tidak hanya menjadi kewajiban ibadah, tetapi juga membentuk karakter Muslim yang beriman, disiplin, dan berbudi pekerti luhur. “Salat yang dijalankan dengan pemahaman benar mampu mencegah perbuatan keji dan menumbuhkan tanggung jawab sosial dan ekologis,” ujarnya pada Kamis (15/1/2026).

Menag menekankan prinsip thaharah, yang mengajarkan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Gerakan dan tata tertib salat pun mengandung pesan kedisiplinan, moderasi, dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. “Merawat alam adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, sementara merusaknya berarti mengabaikan tanda kekuasaan-Nya,” tegas Menag.

Momentum Isra Mikraj di Indonesia juga dirayakan dengan berbagai tradisi lokal, seperti:

  1. Rajaban (Cirebon): Ceramah dan pengajian.
  2. Pawai Obor (Bandung): Pawai dengan obor untuk menumbuhkan semangat.
  3. Khataman Kitab Arjo (Temanggung): Membaca kitab lokal tentang Isra Mikraj.
  4. Nganggung (Bangka Belitung): Makan bersama dalam konsep “Sepintu Sedulang”.
  5. Ngusiran (Lombok): Cukur rambut bayi di masjid.
  6. Hajad Dalem Yasa Peksi Burak (Yogyakarta): Arak-arakan replika Burak dan pembagian buah.
  7. Nyadran dan Ambengan (Jawa Tengah & Timur): Doa bersama, pembersihan makam, dan makan bersama.

Selain Isra Mikraj, 16 Januari juga diperingati sebagai Hari Penerbit Buku dan Hari Fetish Internasional, menyoroti literasi dan keberagaman.

Dengan peringatan ini, Menag mengajak umat meneladani kesalehan holistik, yang menggabungkan ibadah, kepedulian sosial, dan kelestarian alam. “Kesalehan sejati bukan hanya menghubungkan kita dengan Tuhan, tapi juga menjaga bumi tempat kita berpijak,” pungkasnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN