25 C
New York
Monday, June 24, 2024

Musim Pancaroba, Waspada Ancaman Demam Berdarah

Jakarta | MISTAR.ID – Indonesia tengah menghadapi peralihan musim atau pancaroba. Demam berdarah dengue (DBD) menjadi ancaman penyakit yang muncul pada hampir setiap musim pancaroba.

“Yang paling dikhawatirkan saat musim pancaroba yaitu ancaman penyakit demam berdarah, karena paling tinggi terjadi di Indonesia,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Vektor dan Zoonosis, Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi di Jakarta, Senin (4/11/19).

Siti mengatakan, penyakit yang ditularkan melalui vektor, terutama nyamuk, cukup sering ditemukan pada musim peralihan. Peralihan musim membuat udara menjadi lebih lembap. Perubahan itu secara otomatis berpengaruh terhadap siklus hidup nyamuk.

Perubahan membuat nyamuk perlu beradaptasi, termasuk dalam sistem reproduksi. Hal ini berpotensi meningkatkan jumlah nyamuk di lingkungan yang sekaligus menimbulkan ancaman demam berdarah.

Ditambah lagi dengan daya tahan tubuh manusia yang menurun seiring terjadinya peralihan musim. Penyakit seperti demam berdarah menjadi satu hal yang patut diwaspadai.

Pemberantasan Sarang Nyamuk

Untuk melindungi diri dari serangan demam berdarah, masyarakat perlu melakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

PSN dapat dilakukan dengan gerakan Jumat Bersih, mengurangi jentik nyamuk, atau menaburkan bubuk abate. Kegiatan PSN harus dilakukan di semua area, baik rumah yang bersifat pribadi hingga ruang-ruang publik lainnya.

Siti mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kebersihan agar tak menjadi sarang nyamuk. “Ini harus diperhatikan. Lokasi yang tidak bersih menjadi tempat penampungan air dan sarang nyamuk,” ujar Siti.

Selain demam berdarah, penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) termasuk leptospirosis dan influenza juga harus diwaspadai.

Ditandai Cuaca Ekstrem

Teroisah, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan peralihan musim kemarau ke musim hujan biasanya ditandai dengan cuaca ekstrem oleh karena itu masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Fenomena ekstrem itu biasanya perubahan cuaca cepat, pagi hingga siang panas terik dan sore tiba-tiba hujan deras disertai petir,” kata Kasubid Analisis Informasi Iklim BMKG Adi Ripaldi saat dihubungi di Jakarta, Selasa (5/11/19).
Fenomena ekstrem tersebut, kata dia, kadang berlangsung dalam durasi cukup singkat. Dampaknya dapat berupa hujan deras, banjir, hingga menyebabkan pohon tumbang dan lain sebagainya.

Memasuki November 2019, sejumlah daerah yang terjadi peralihan musim kemarau ke musim hujan yaitu Lampung, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. “Kita terus mengimbau masyarakat agar selalu waspada karena cuaca ekstrem bisa saja terjadi dengan tiba-tiba,” katanya.

Kemudian, lanjut dia, pada periode transisi peralihan musim akibat hujan deras dan angin kencang, sejumlah daerah di Pulau Jawa berpotensi terjadi banjir.
“Beberapa daerah itu di antaranya Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur rentan terjadi banjir dan tanah longsor,” katanya.

Selain itu, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini cuaca hingga 6 November 2019. Wilayah yang berpotensi hujan lebat yaitu Kalimantan Utara. Kemudian, wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai angin kencang, kilat atau petir yaitu Aceh dan Papua.

Peringatan cuaca dini tersebut dilatarbelakangi sirkulasi siklonik di Laut Andaman (level 925/700 hPa), Laut Cina Selatan bagian utara (level 925/700 hPa) dan di pesisir barat laut Australia (level 925/850 hPa).

Konvergensi terjadi di wilayah Laut Andaman, Laut Cina Selatan, perairan timur Vietnam Samudra Pasifik utara Papua. Terdapat belokan angin di wilayah Sumatera bagian tengah, Kalimantan bagian barat dan timur, Sulawesi bagian tengah, Papua Barat dan Papua.

Sumber: Antara
Editor: Luhut Simanjuntak

Related Articles

Latest Articles