Dokter Ingatkan Risiko Dehidrasi Saat Puasa Ramadan di Tengah Cuaca Panas Medan

Ilustrasi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan saat musim kemarau dan menjalani puasa (foto:berry/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Masyarakat Kota Medan yang menjalani puasa Ramadan 1447 Hijriah atau tahun 2026 turut merasakan panasnya cuaca yang menandai musim kemarau, sesuai Surat Pemberitahuan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nomor e.B/ME.02.03/225/KBBI/II/2026.
Dalam menjalani puasa di tengah musim kemarau, Dokter Rumah Sakit Umum Alfuadi, dr. M. Allif Maulana Syafrin Lubis, M.Ked (PD), Sp.PD, mengingatkan masyarakat agar tetap memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
“Umat Muslim yang sedang berpuasa pada cuaca panas seperti ini berisiko mengalami dampak kurang baik, terutama jika kebutuhan cairan dan nutrisi saat sahur tidak tercukupi,” ujarnya kepada Mistar, Jumat (27/2/2026).
Dokter spesialis penyakit dalam itu menyarankan agar saat sahur masyarakat dapat memenuhi kebutuhan cairan dan makanan secara cukup dan seimbang.
Menurut Allif, masyarakat dapat mengonsumsi air putih secara bertahap, tidak harus sekaligus saat sahur, tetapi dengan mengatur jadwal minum hingga minimal dua liter per hari agar kebutuhan cairan tetap tercukupi.
Namun, jika kebutuhan makanan dan minuman saat sahur tidak terpenuhi dan dibarengi cuaca panas, kondisi yang paling sering terjadi adalah dehidrasi.
“Dehidrasi atau kekurangan cairan saat berpuasa dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap kelelahan, sakit kepala, hingga penurunan konsentrasi, terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan,” katanya.
PREVIOUS ARTICLE
RSUD dr. Pirngadi Medan Catat 2.067 Kunjungan Pasien HIV 2025BERITA TERPOPULER























