Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia: Macadamia Cocok Dikembangkan di Samosir

Ketua Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia, Wilmar Eliezer Simanjorang saat membersihkan batang macademia dilerang gunung Pusuk Buhit. (foto: pangihutan/mistar)
Samosir, MISTAR.ID
Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia, Wilmar Eliezer Simanjorang, menyatakan tanaman macadamia memiliki prospek besar untuk dikembangkan di Kabupaten Samosir, baik sebagai tanaman konservasi maupun sebagai sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Wilmar, Selasa (9/12/2025). Ia menuturkan macadamia terbukti memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap kondisi ekstrem, termasuk kebakaran hebat yang melanda lereng Pusuk Buhit sepanjang musim kemarau pada 2025.
Wilmar mengungkapkan, pada 2017 ia menanam 200 batang Macadamia integrifolia kiriman Direktorat Jenderal PDAS HL di kawasan tersebut. Dalam beberapa tahun, jumlahnya berkembang hingga mencapai sekitar 1.000 batang, dan pertumbuhannya dinilai sangat baik.
Kebakaran yang berlangsung dari Februari hingga Oktober 2025 menyebabkan lahan di lereng Pusuk Buhit hangus. Namun, tanaman macadamia tetap bertahan. “Saat saya kembali meninjau lokasi, saya melihat tanaman itu bertunas lagi,” ujarnya. Karena ketahanannya itu, warga sekitar bahkan menjuluki macadamia sebagai “macadamia tahan api”.
Menurut Wilmar, kemampuan tersebut menunjukkan bahwa macadamia tidak hanya mendukung konservasi lahan, tetapi juga mencerminkan ketahanan ekosistem di kawasan Danau Toba.
Ia menjelaskan pemerintah sebenarnya sudah memperkenalkan macadamia sejak 1980-an melalui program penghijauan Kementerian Kehutanan. Pada masa itu, beberapa jenis macadamia digunakan untuk konservasi, meski belum layak konsumsi karena bijinya mengandung racun. Jenis-jenis tersebut antara lain Macadamia claudiensis, grandis, jansenii, ternifolia, tetraphylla varietas tertentu, dan whelanii.
Biji macadamia pertama kali didatangkan dari Australia oleh PT Inhutani Surabaya. Upaya pengembangan kembali diperkuat pada 2016, ketika pemerintah mempromosikannya sebagai tanaman konservasi di kawasan Danau Toba.
Pada 2017 kerja sama Inhutani IV dan Ditjen PDAS HL mendorong penanaman lebih luas di daerah tangkapan air Danau Toba. Bahkan, sejak 2019 hingga 2020, Inhutani IV dan Eureka Macadamia Management Australia mengimpor 15,7 ton benih Macadamia integrifolia.
Wilmar menegaskan hanya dua spesies macadamia yang bisa dikonsumsi manusia, yakni Macadamia integrifolia dan Macadamia tetraphylla. Kedua jenis ini memiliki nilai jual tinggi dan diminati pasar global.
Tanda awal potensi ekonominya mulai terlihat ketika beberapa pohon macadamia mulai berbuah pada 2024. Kebakaran pada Juli 2025 sempat memunculkan kekhawatiran akan kerusakan tanaman, namun sebagian besar kembali bertunas ketika ia meninjau pada Desember 2025.
“Macadamia bukan sekadar tanaman. Ia adalah harapan bagi ekosistem Danau Toba sekaligus masa depan masyarakat yang tinggal di sekitarnya,” tuturnya. (hm24)















