Prihatin Wafatnya Tiga Dokter Internship, PB IDI Soroti Dua Hal Ini

Wakil Ketua Umum PB IDI, dr. Hamzah Hasan, MM. (Foto: Berry/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyampaikan rasa prihatinnya terkait wafatnya tiga sosok dokter dalam menjalankan tugas Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum PB IDI, dr. Hamzah Hasan, MM, yang juga menyoroti beberapa hal dan menyayangkan masih kurangnya perhatian dari pemerintah kepada para dokter internship.
“Kita sangat prihatin atas kejadian itu. Tugas negara diwajibkan dan diatur dalam undang-undang yang mengharuskan mereka melaksanakan internship sebelum praktik mandiri maupun ke jenjang spesialis,” ujarnya kepada Mistar, Kamis (2/4/2026).
Lebih lanjut, Hamzah mengatakan bahwa ia yang pernah menjadi Ketua Komite Internship IDI pernah menganjurkan agar bantuan hidup (gaji) bagi dokter internship diperjuangkan untuk naik.
“Awal-awal dulu Rp1,5 juta (bantuan hidup internship), kalau tidak salah. Kemudian kita perjuangkan naik menjadi Rp2,5 juta. Kita ajukan lagi Rp10 juta, tapi dikabulkan Rp3 juta lebih dan berlaku sampai sekarang,” ucapnya.
Hamzah menegaskan hal tersebut diperjuangkan untuk memenuhi kesejahteraan dokter internship, seperti makan, biaya sewa rumah karena tidak disediakan, hingga biaya BPJS Kesehatan yang masih ditanggung sendiri.
“Seharusnya dalam melakukan tugas negara itu ditanggung semuanya, termasuk masalah kesehatan yang dijamin oleh pemerintah. Paling tidak BPJS Kesehatan harus dibayarkan pemerintah,” tuturnya.
Selain itu, Hamzah menyoroti dari sisi tanggung jawab pemerintah mengenai penyakit campak yang menular, yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi dan pola hidup sehat, dan itu merupakan tugas pemerintah.
“Nampaknya pemerintah gagal. Walaupun dikatakan imunisasi itu berhasil dan segala macam, namun dengan kejadian seperti itu, pemerintah gagal dan artinya itu hanya di atas kertas (capaian imunisasi),” katanya.
PB IDI, dikatakan Hamzah, sangat menyayangkan penyakit campak merenggut nyawa dokter, karena mereka yang langsung bersentuhan dengan pasien yang memiliki penyakit tersebut.
“Ditambah beban kerja yang meningkat, jadi persoalannya sangat kompleks. Belum lagi kesejahteraan mereka minim, jaminan kesehatan mereka juga tidak terjamin. Itulah yang diabaikan, padahal itu tanggung jawab pemerintah,” ucapnya.
Ketiga dokter yang wafat yaitu dokter internship RS Bina Bhakti Husada Rembang batch Agustus 2025, dr. Kartika Ayu Permatasari yang wafat pada 25 Februari 2026; dokter internship RS Bhayangkara Denpasar batch Mei 2025, dr. Edgar Bazaliel Hartanto yang wafat pada 17 Maret 2026; serta dokter internship RSUD Pagelaran batch Agustus 2025 yang wafat pada 26 Maret 2026. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Kasus HIV di Pematangsiantar Meningkat Sejak Tiga Tahun TerakhirBERITA TERPOPULER























