Friday, February 28, 2025
home_banner_first
KESEHATAN

Dokter Gizi: Diet Terlalu Ketat Picu Gangguan Psikologis

journalist-avatar-top
By
Jumat, 28 Februari 2025 12.10
dokter_gizi_diet_terlalu_ketat_picu_gangguan_psikologis

Ilustrasi stress eating. (f: ist/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Dokter spesialis gizi klinik, dr. Mulianah Daya, M.Gizi, Sp.GK, mengungkapkan bahwa menjalani diet ketat dapat memicu gangguan psikologis. Gangguan psikologi terjadi karena stress eating.

“Stress eating bisa terjadi karena diet yang terlalu membatasi. Misalnya, seseorang sangat ketat dalam menghindari makanan tertentu seperti tepung atau mangga selama diet,” ujar Mulianah, Kamis (27/2/2025), dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan, diet yang terlalu restriktif dapat meningkatkan hormon stres, yang kemudian memicu hormon lapar dan keinginan untuk makan berlebihan.

“Banyak pasien yang mengatakan, ‘Dok, saya stres jadi makan banyak, tidak apa-apa, kan?’ Ini sebaiknya tidak dinormalisasi karena bisa berdampak buruk bagi kesehatan,” katanya.

Mulianah juga memperingatkan bahwa pola diet yang terlalu ketat bisa meningkatkan risiko gangguan makan, seperti ketakutan berlebih terhadap makanan tertentu.

“Ada yang sangat takut makan nasi, sampai akhirnya setiap kali mengonsumsinya langsung dimuntahkan. Ini adalah tanda gangguan makan yang membutuhkan pendampingan ahli psikologi,” jelasnya.

Selain berisiko secara psikologis, diet ketat juga bisa menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi, yang membuat berat badan sulit turun.

“Diet yang terlalu ketat sering kali berujung ketidakseimbangan nutrisi. Akibatnya, berat badan tidak kunjung turun, terutama jika dikombinasikan dengan stress eating,” pungkasnya.

Perlu diketahui, stress eating adalah kebiasaan makan berlebihan akibat stres, yang sering terjadi saat seseorang menjalani diet terlalu ketat dan membatasi jenis makanan tertentu. (antara/hm20)

RELATED ARTICLES