Singapura-Thailand Tangkap Hacker yang Bobol Data Internasional


Ilustrasi. (f: iStockphoto/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Otoritas Singapura dan Thailand berhasil menangkap seorang peretas yang diduga membobol data internasional, Rabu (26/2/2025). Hacker berusia 39 tahun tersebut itu ditangkap di Thailand dalam operasi gabungan antara Kepolisian Singapura (SPF) dan Kepolisian Kerajaan Thailand (RTP).
Menurut laporan Channel News Asia (CNA), penangkapan ini dilakukan setelah kepolisian melakukan penyelidikan terhadap aktivitas peretas tersebut sejak 2020, setelah 11 korban melapor bahwa mereka menerima permintaan tebusan dari beberapa nama alias seperti ALTDOS, DESORDEN, GHOSTR, dan 0mid16B.
Berdasarkan hasil penyelidikan, nama-nama alias tersebut terhubung dengan satu identitas yang diduga bertanggung jawab atas setidaknya 75 kasus peretasan di seluruh dunia.
"Pelaku ancaman ini diduga mengeksploitasi kerentanannya jaringan korban sebelum mencuri data mereka," ujar pernyataan dari SPF.
"Pelaku juga diduga mempublikasikan data yang dicuri untuk dijual secara online jika korban tidak bisa membayar tebusan," lanjut pernyataan itu.
SPF bekerja sama dengan kepolisian Thailand setelah peretas tersebut juga diduga mencuri data di Thailand. Identitas pelaku akhirnya terungkap berdasarkan petunjuk-petunjuk yang telah dikumpulkan selama penyelidikan.
Setelah menangkap peretas tersebut, polisi juga mengamankan sejumlah aset yang bernilai lebih dari 10 juta baht (sekitar Rp4,8 miliar), termasuk laptop, ponsel, kendaraan mewah, dan tas bermerek.
"Di ranah siber, kerja sama internasional sangat penting karena penjahat siber tidak mengenal perbatasan," kata Paul Tay, komandan komando kejahatan siber SPF.
"SPF berkomitmen untuk bekerja sama dengan mitra kawasan kami, dan kami berterima kasih kepada Kepolisian Kerajaan Thailand atas kerja sama mereka yang tak ternilai dalam menghancurkan jaringan kriminal ini dan membuat dunia maya lebih aman," tambah Tay.
Nama alias ALTDOS pertama kali muncul pada akhir 2020 ketika sebuah perusahaan sekuritas di Thailand melaporkan bahwa mereka menjadi korban pencurian data.
Bukan hanya perusahaan sekuritas, bisnis-bisnis finansial di Singapura dan Bangladesh juga menjadi korban pencurian data oleh ALTDOS.
Pada Agustus 2021, agen real estat OrangeTee & Tie menerima email dari ALTDOS yang menuntut uang tebusan sebesar 10 bitcoin. Mereka diancam akan membocorkan data jika tidak bisa membayar tebusan tersebut.
Agensi tersebut akhirnya didenda S$37.000 (sekitar Rp452 juta) karena kebocoran data pribadi pelanggan dan karyawan. (mtr/hm24)
PREVIOUS ARTICLE
Kemenaker Pastikan SE THR Rampung Seminggu Lagi