Qatar Gelar Doa Nasional Istisqa: Seruan Spiritual di Tengah Krisis Kekeringan

Gelar doa massal nasional Istisqa—doa khusus dalam tradisi Islam untuk memohon turunnya hujan. (foto:TimeOfIndia/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Krisis lingkungan yang melanda Qatar membawa respons unik dari pemerintah dan masyarakatnya. Pada Kamis, 13 November 2025, Amir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani memimpin langsung doa massal nasional Istisqa—doa khusus dalam tradisi Islam untuk memohon turunnya hujan.
Upacara doa berlangsung di lapangan Lusail, disertai seruan kepada seluruh warga dan komunitas internasional di Qatar untuk turut serta. Langkah ini bukan sekadar simbol keagamaan, tetapi juga pesan sosial dan ekologis di tengah meningkatnya ancaman kekeringan akibat perubahan iklim.
Doa yang Menyatukan Rakyat
Istisqa, tradisi yang berakar dalam ajaran Islam, biasanya dilakukan ketika hujan tak kunjung turun. Amir Qatar dalam seruannya mengajak masyarakat untuk merenungkan hubungan manusia dengan alam, serta memohon ampun dan memperbanyak sedekah sebagai bagian dari bentuk tobat kolektif.
Khutbah yang disampaikan seusai salat menegaskan bahwa air adalah nikmat dan tanggung jawab bersama. Imam juga mengingatkan pentingnya menahan pemborosan dan menjaga sumber daya air di tengah kondisi ekstrem.
“Air adalah kehidupan, dan doa kita hari ini bukan hanya permohonan, tetapi pengingat untuk menjaga ciptaan Allah,” demikian petikan khutbah yang dikutip dari The Times of India.
Krisis Iklim dan Citra Qatar di Dunia
Secara geografis, Qatar adalah salah satu negara paling kering di dunia, dengan curah hujan rata-rata hanya sekitar 80 milimeter per tahun. Tahun 2025 menjadi salah satu yang terpanas dalam dua dekade terakhir, membuat depresi tanah dan polusi udara meningkat drastis.
Namun, doa nasional ini juga memiliki dimensi diplomasi dan citra internasional. Qatar dikenal aktif dalam isu perubahan iklim, terutama setelah menjadi tuan rumah konferensi lingkungan di Doha beberapa tahun terakhir. Dengan langkah spiritual ini, negara tersebut menampilkan diri sebagai kekuatan yang menggabungkan tradisi Islam dan tanggung jawab modern terhadap lingkungan.
Simbol Solidaritas dan Kesadaran Sosial
Selain aspek religius, doa Istisqa di Qatar menjadi momen sosial yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat—baik warga asli maupun pekerja migran. Di tengah situasi global yang cenderung materialistis, tindakan ini menghadirkan pesan sederhana namun mendalam: kemanusiaan bergantung pada keseimbangan alam.
Pakar sosial menilai, kegiatan seperti ini bisa membangkitkan kesadaran lingkungan lebih efektif dibanding kampanye formal. “Ketika doa dilakukan bersama, pesan moralnya lebih menyentuh hati masyarakat,” ujar salah satu akademisi Universitas Qatar.
Pelajaran bagi Dunia, Termasuk Indonesia
Bagi negara lain, termasuk Indonesia, inisiatif Qatar ini memberi contoh bahwa pengelolaan krisis lingkungan tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga pendekatan spiritual dan budaya.
Tradisi seperti Istisqa menunjukkan bahwa keyakinan dan sains bisa berjalan beriringan—menguatkan upaya mitigasi sekaligus menumbuhkan empati sosial.
Dalam konteks global, Qatar memperlihatkan bahwa doa massal bisa menjadi bentuk komunikasi publik yang kuat di era perubahan iklim.
Simbol Perpaduan
Doa nasional Istisqa yang dipimpin Amir Qatar menjadi simbol perpaduan antara iman, tanggung jawab sosial, dan kesadaran lingkungan.
Di tengah panas yang kian menyengat dan kekeringan yang meluas, Qatar memilih bersujud bersama rakyatnya—bukan hanya untuk memohon hujan, tapi untuk menyadarkan dunia bahwa keseimbangan alam adalah anugerah yang harus dijaga.
(*/ai/hm27)















