Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Tiket Pesawat Melambung, Pengamat: Ancaman Serius bagi Sektor Pariwisata

Mistar.idRabu, 8 April 2026 17.18
journalist-avatar-top
AA
harga_tiket_pesawat_melambung_pengamat_ancaman_serius_bagi_sektor_pariwisata_

Ilustrasi penerbangan pesawat. (foto: freepik/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini berdampak langsung pada biaya transportasi udara di tanah air. Lonjakan harga minyak mentah dunia telah memicu kenaikan harga avtur hingga 70 persen, yang kemudian memaksa harga tiket pesawat meroket tajam.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan saat ini harga tiket pesawat rute Jakarta–Medan untuk satu kali perjalanan telah menyentuh angka kisaran Rp2,5 juta.

Meski biaya avtur melompat drastis, Gunawan menjelaskan pemerintah masih melakukan intervensi untuk meredam dampak yang lebih besar bagi masyarakat.

Menurut Gunawan, pemerintah hanya membolehkan kenaikan harga tiket maksimal 13 persen. Kemudian, untuk membantu maskapai, pemerintah memberikan berbagai insentif, mulai dari penyediaan suku cadang, keringanan pajak, hingga penyeragaman biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge).

Gunawan memprediksi kenaikan harga tiket pesawat ini tidak hanya membebani maskapai, tetapi juga akan menimbulkan efek domino atau multiplier effect pada berbagai sektor ekonomi lainnya.

"Kenaikan harga tiket pesawat diperkirakan menyumbang andil inflasi sekitar 0,27 persen. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak turunannya. Sektor pariwisata, perhotelan, transportasi darat, pergudangan, hingga kuliner akan ikut tertekan karena daya beli masyarakat yang terkoreksi," kata Gunawan, Rabu (8/4/2026).

Menariknya, Gunawan menyebut daya saing maskapai lokal terhadap asing tidak akan banyak berubah karena kenaikan harga tiket terjadi secara serentak di seluruh dunia. Potensi penurunan jumlah penumpang akan dirasakan secara merata oleh hampir semua maskapai.

Meski saat ini harga minyak mentah dunia mulai melandai di bawah 100 Dolar AS per barel, dampaknya terhadap harga tiket tidak akan terasa secara instan. Hal ini disebabkan oleh mekanisme penentuan harga avtur yang mengacu pada Mean of Platts Singapore (MOPS) tidak berubah dengan cepat.

Kabar mengenai gencatan senjata selama dua pekan ke depan di Timur Tengah dinilai belum cukup kuat untuk menjamin pemulihan industri penerbangan dalam jangka panjang.

"Gencatan senjata ini masih bersifat temporer dan menyisakan ketidakpastian tinggi. Situasi geopolitik tetap bisa memburuk sewaktu-waktu dan semakin menekan kinerja maskapai di masa mendatang," ucap Gunawan.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN