Saturday, April 5, 2025
home_banner_first
EKONOMI

Bos IFG Ungkap Produk Asuransi dan Dana Pensiun Asing Banjiri RI

journalist-avatar-top
Selasa, 16 Mei 2023 16.24
bos_ifg_ungkap_produk_asuransi_dan_dana_pensiun_asing_banjiri_ri

bos ifg ungkap produk asuransi dan dana pensiun asing banjiri ri

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID-

Direktur Utama Indonesia Financial Group (IFG), Hexana Tri Sasongko mengatakan daya saing industri asuransi dan dana pensiun lokal masih kalah dengan perusahaan asing yang menjual jasa di Indonesia.

Kondisi itu terlihat dari neraca perdagangan jasa, khususnya di industri asuransi dan dana pensiun yang masih defisit.

“Dari sisi competitiveness, asuransi dan dana pensiun memang menghasilkan nilai ekspor jasa 155 juta dolar AS pada 2022. Namun, nilai impor jauh dari angka ekspor tersebut, yaitu 2,1 miliar dolar AS. Sehingga menyisakan defisit sebesar 1,9 miliar dolar AS,” kata Hexana dalam Konferensi Nasional IFG di Jakarta, Selasa (16/5/2023).

Baca Juga: Dugaan Penyelewengan Dana Koperasi, Anggota KGPN akan Bertemu dengan Tim Audit

Hexana mengatakan, angka itu memberi sumbangan cukup besar terhadap defisit neraca perdagangan jasa tahun 2022. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), defisit neraca perdagangan jasa pada 2022 mencapai 20 miliar dolar AS. Angka defisit itu naik dari 2021 dengan nilai Rp 14,6 miliar dolar AS.

“Defisit dari asuransi dan dapen ini setara dengan hampir 10 persen dari total defisit neraca jasa pada 2022,” tutur Hexana.

Kontribusi industri asuransi dan dana pensiun ke PDB masih rendah

Selain itu, kontribusi industri asuransi dan dana pensiun terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia juga masih sangat rendah. Tercatat di bawah 1 persen pada 2022.

“Kontribusi kedua industri ini hanya pada kisaran 1 persen dalam 6 tahun terakhir. Bahkan pada tahun 2022, menurun menjadi hanya 0,86 persen. Ini jadi proporsi terendah dalam 6 tahun terakhir,” ujar Hexana.

Masyarakat  tahu asuransi tetapi masih enggan membeli produknya.

Hexana mengatakan, rendahnya kontribusi industri asuransi dan dana pensiun disebabkan oleh penggunaan produk jasa asuransi yang masih rendah. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2022 menunjukkan, indeks literasi masyarakat terhadap sektor asuransi tercatat sebesar 31,7 persen, naik 1,6 kali dibandingkan 2019, sekitar 19,4 persen.

“Di sini kita bisa melihat dari sisi nilai indeks terdapat kesenjangan yang cukup besar, yakni 15 persen setara dengan indeks literasi dan indeks inklusi untuk sektor asuransi,” tutur Hexana.

Baca Juga: Portugal Dilanda Krisis Biaya Hidup, Ribuan Warga Turun Ke Jalan

Adanya kesenjangan dan ketidakselarasan peningkatan antara tingkat literasi dan inklusi di sektor asuransi tersebut, dilatarbelakangi oleh beberapa hal.

Selain itu, tingkat pengetahuan masyarakat terhadap karakteristik produk perasuransian, khususnya aspek risiko produk atau layanan dan cara memperolehnya, masih terbatas.

Aspek kepercayaan masyarakat terhadap produk asuransi di Indonesia, baik konvensional maupun syariah, juga masih sangat rendah.

Hexana mengatakan, untuk meningkatkan kontribusinya, industri asuransi harus menggencarkan sosialisasi atau literasi terhadap masyarakat. Khususnya, tentang pentingnya asuransi untuk kemerdekaan finansial.

Namun, ada juga faktor eksternal yang harus diwaspadai demi menjaga kinerja perusahaan asuransi tetap positif.

“Industri asuransi juga harus antisipasi berbagai fenomena eksternal seperti volatility, uncertanty, complexity, dan ambiguity pada makro ekonomi nasional, regional, dan global.

Fluktuasi pada variabel makro ekonomi seperti inflasi, tingkat suku bunga, dan nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi akan berdampak pada anchor indicators industri seperti underwriting, invested asset, dan required risk based capital,” kata Hexana. (IDN Times/hm19)

REPORTER: