27.4 C
New York
Sunday, June 2, 2024

Kebangkitan Nasional Antara Harapan dan Kenyataan

MISTAR.ID
Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei, adalah momentum bagi rakyat untuk menakar makna  nasionalisme dan urgensinya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan sekedar bernostalgia atas heroisme masa lalu, tanpa pesan sejarah dan harapan bersama yang mesti dievaluasi dan diperbaharui.
Nasionalisme bukan sekedar slogan, tetapi sebuah pandangan hidup untuk mencapai kemajuan bersama dalam berbangsa dan bernegara. Komitmen hidup bersama ini, mesti selaras dengan nilai kemanfaatan yang dinikmati bersama. Pertanyaannya refleksi dari setiap peringatan itu, ada kah kesepadanan antara heroisme rakyat, dengan kesetaraan mengambil manfaat dari seluruh rangkaian pembangunan dan pencapaian cita-cita nasional yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. 

Kebangkitan Nasional dapat dimaknai sebagai sebuah pencapaian sejarah, di mana rakyat dan seluruh anak bangsa dapat mengatasi segala hambatan, ancaman dan tantangan demi stabilitas nasional yang mantap dan dinamis di dukung ketahanan nasional dan kewaspadaan nasional yang terjaga baik ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya, Hankam. Terhindar dari perilaku  primordialisme dan jauh dari tekanan tekanan dari kelompok minoritas yang dominan dalam melintasi gerak peradaban dan budaya bangsa.

Rakyat dapat menikmati kesejahteraan bersama, karena negara tidak terhambat persoalan klasik dalam mengalokasi dan mengelola sumberdaya yang melimpah baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat yaitu makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran. Tumbuh dalam pemerataan dan merata dalam pertumbuhan.Hal yang berbeda di saat awal  kemerdekaan, dimana visi besar anak bangsa tidak mudah dikonsolidasikan karena residu dari sekat sekat masa lalunya.

Baca juga: Harkitnas ke-116 di Siantar: Pupuk dan Tumbuhkan Semangat Nasionalisme

Semangat Nasionalisme adalah modal sosial, yang amat berharga. Sulit membayangkan kesatupaduan sosial atau yang disebut kohesivitas dari beragam sosio kultural yg terbentang luas dan dalam gugusan pulau pulau nusantara dengan semangat wawasan nusantara, tentu semangat itu tidak boleh  redup dalam sanubari anak bangsa, nasionalisme, patriotisme dan semangat persatuan dan kesatuan terus menggelora sebagai wujud rasa cinta tanah air.

Merawat dan memuliakannya adalah ruh dari keberadaan dan kebesaran bangsa dan negara ini. Karena itu, kesetaraan dan keadilan adalah nutrisi pokok bangsa yg mesti terjaga kelestariannya, agar siklus pertumbuhan tetap bersemai. Sebaliknya ketimpangan dan ketidakadilan adalah racun yg harus dinetralisir, agar negeri ini tidak terdegradasi dan roboh serta terhindar dari disintegrasi bangsa.

Belajar pada dua negara tetangga, yang merayakan kebangkitan nasionalnya dengan penuh gairah dan optimisme. Pemimpin dan rakyatnya saling percaya untuk melalui rute yang sudah ditetapkannya. Negara dimaksud, adalah China  dan Korea Selatan. China yang dulunya kumuh lalu berubah menjadi raksasa ekonomi dunia. Deng Xiaoping adalah pemimpin China yang karismatik, visioner, dan konsisten. Kurun waktu (1979 – 1989) dapat melesatkan China menjadi negara besar dengan pertumbuhan ekonomi yang fantastis.

Apa daya magis dari kepemimpinan Deng Xiaoping terhadap rakyatnya, sehingga dapat menyulap China menjadi negara dengan tingkat produktivitas tinggi. Diagnosa, presisi dan pengobatannya tepat. Bahwa keterbelakangan, ketertinggalan dan kemiskinan disebabkan oleh ketimpangan yang bersumber dari korupsi dan kolusi. Karena itu, di awal kepemimpinannya dia nyatakan perang dengan korupsi.

Dia perintahkan untuk disediakan 99 keranda mayat bagi para pelaku korupsi, dan satu keranda mayat untuk dirinya sendiri, jika dalam pemerintahannya juga melakukan tindakan korupsi. Manifesto ini terlihat sederhana tetapi memiliki daya dobrak dan optimisme untuk saling percaya dan bekerja fokus pada masing-masing bidangnya tanpa terhantui tindakan manipulatif. Produktivitas berawal dari revolusi mental yang diorganisir dengan keteladanan tidak hanya dipidatokan.

Korea Selatan, pun demikian, Samuel L. Huntington menyebutnya sebagai bangsa yang berhasil membangun kultur yang kuat. Menjadi negara industri maju karena demokrasi yang mereka bangun bukan sekedar kata-kata melainkan dengan bekerja. Produktivitas adalah pergulatan, dilakoni dengan fokus, bukan serba pengarahan tanpa detail. Rakyat dapat bekerja fokus karena ada optimisme dari pemimpinnya yang selaras dengan lingkungan sosial yang aktif, korektif, konstruktif, sportif dan kompetitif.

Bagaimana dengan negeri kita? tentu dibutuhkan pemimpin termasuk pemimpin daerah  yang greget dalam merubah mindset dan culture set didorong keberanian nyata. Jauh dari budaya konservatisme. Korupsi, kolusi dan nepotisme yang harus terkikis habis dengan mengedepankan arah dan kebijakan yang terukur dengan mengedepankan manajemen kinerja yang jelas.

Pemimpin itu tidaklah superman tapi harus lebih mengedepankan super tim, empowerment, partisipatif, koordinatif, konsultatif dan delegatif yang akan bisa menjawab tantangan dengan etos kerja yang tinggi serta semangat yang berkobar mendorong potensi produktivitas anak bangsa.

Tidak boleh ada kesan seolah-olah ada kelompok tertentu dari segmen rakyat  yang terlindungi dan mendapat akses, yang berakibat memunculkan ketimpangan yang  menganga, jauhkan ketidakpercayaan sosial yang intensitasnya tinggi akibat kebiadaban yang bisa merusak nilai-nilai demokrasi.

Tingkat ketimpangan/indeks gini ratio yang mengkhawatirkan terkonfirmasi dengan penguasaan sumber daya dikaitkan dengan isu-isu yang tendensius sering mengatakan kalimat bahwa 1 % orang terkaya menguasai 46 % kekayaan negeri ini, 10 % orang terkaya menguasai 75, 3 % kekayaan negeri. Inilah ketimpangan luar biasa yang menyedot potensi negeri ini untuk bangkit setara dengan negara maju lainnya hal ini harus terbantahkan dengan kerja kerja ikhlas dan tangan-tangan dingin yang lebih inovatif dan motivatif menatap wajah masa depan yang maju dan modern.

Terdapat 64 juta unit usaha kecil menengah (UMKM) atau 99 % dari total unit usaha nasional yang menyerap 97 % tenaga kerja. Dalam teori ekonomi, jika 75 persen kekayaan negeri ini terdistribusi ke dalam 64 juta unit usaha kecil menengah, maka dampak penggandaan (multiplier effect) akan berlipat-lipat. Selain produksi akan meningkat berlipat,  99% tenaga kerja akan naik pendapatannya.

Pendapatan yang meningkat dari 99 persen tenaga kerja, akan meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa. Siklus permintaan inilah yang menggeliatkan ekonomi menuju kesejahteraan bersama.  Negara hadir  dengan kekuasaannya  melakukan berbagai terobosan untuk bangkit dan bangkit lagi. Ketimpangan adalah takdir yang tak terhindarkan. Ini harus terjawab dengan semangat bangkit untuk meraih dan merencanakan masa depan yang penuh kemauan, kecerdasan dan kemampuan.

Nasionalisme sesungguhnya adalah semangat hidup bersama karena ada kesetaraan dan keadilan untuk maju bersama. Ketimpangan yang menganga adalah paradoks dari nilai nilai kesetaraan dan keadilan. Jika rakyat mengedepankan rasionalitasnya, tidak memandang  nasionalisme yang tak ubahnya dengan barang antik. Keberadaannya tak memberi arti apa apa, tetapi tetap dipajang untuk sekedar romantisme sejarah.

Jangan jadikan Semangat Kebangkitan Nasional

Peringatan Kebangkitan Nasional, yang didefinisikan sebagai kebangkitan para elit atau sekelompok orang saja. Rakyat hanya merayakan kebangkitan yang bersifat seremonial. Kita yakin bisa menuju negara yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila, yaitu Pancasila yang berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan dan berkeadilan.Terima kasih kepada rakyat Indonesia yang tetap optimis dan bangga merayakan kebangkitan nasional.(*)

Opini ditulisi oleh Parulian Nasution selaku Eksekutif Peradaban

Related Articles

Latest Articles