10.5 C
New York
Sunday, March 3, 2024

Kripto Global Ambruk, Apa Kabar Investasi Koin Digital di Indonesia ?

Jakarta, MISTAR.ID
Beberapa bulan terakhir investor kripto cukup ketar-ketir karena penurunan harga yang nyaris menyentuh titik nadir. Padahal sebelumnya kripto menjadi tren investasi yang cukup menjanjikan karena keuntungannya yang cukup besar.

Sebagai contoh terra (LUNA) yang dibekukan oleh manajemen dalam perdagangan di blockchain akibat harganya yang anjlok drastis. Selain itu ada juga bitcoin, kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia merosot 6,53 persen menjadi US$19.106 pada 18 Juni kemarin, terendah sejak Desember 2020.

Penurunan harga uang digital tersebut berimbas pada perusahaan kripto luar negeri yang harus gulung tikar.

Baca juga:Beli Aset Kripto, Disarankan yang Kantongi Izin Regulator

Baru-baru ini, perusahaan kripto Celsius mengajukan bangkrut dengan menggunakan Undang-undang Kepailitan AS Bab 11. Artinya, perusahaan ingin meminta perlindungan untuk tetap beroperasi meski berstatus pailit.

Selain Celcius, platform kripto lainnya yang dilanda kebangkrutan adalah Voyager Digital Ltd. Pialang asal Kanada itu juga mengajukan perlindungan kebangkrutan akibat volatilitas pasar kripto dan jatuhnya hedge fund yang meminjam dana ke perusahaan. Kemudian, ada Three Arrows Capital (3AC) dan Vauld, dua platform kripto asal Singapura yang juga terkena imbas dalam industri tersebut.

Lalu seperti apa pasar kripto di Indonesia? berapa jumlah investor dan investasinya? dan berapa platform yang terdaftar?

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat saat ini jumlah investor aset kripto di Indonesia mencapai 14,6 juta per Juni 2022. Jumlahnya jauh lebih tinggi dari investor saham yang sebanyak 9,11 juta orang.

Berdasarkan demografinya, investor kripto kelompok usia 18-24 tahun sebanyak 32 persen, kelompok 25-30 tahun sebanyak 30 persen, dan 31-35 tahun sebanyak 16 persen.

Nilai transaksi aset kripto pun terus meningkat. Pada 2020 nilai mencapai Rp64,9 triliun, kemudian melonjak pada 2021 menjadi Rp859,4 triliun. Adapun nilai transaksinya sepanjang Januari hingga Juni 2022 mencapai Rp212 triliun.

Menurut catatan Bappebti ada lima jenis aset kripto dengan nilai transaksi tertinggi, yaitu tether, bitcoin, ethereum, dogecoin, dan terra.

Sementara itu, jumlah platform kripto yang terdaftar di Bappebti mencapai 25. Beberapa di antaranya adalah PT Indodax Nasional Indonesia (Indodax), PT Crypto Indonesia Berkat (Tokocrypto), PT Zipmex Exchange Indonesia (Zipmex), PT Pintu Kemana Saja (Pintu), dan PT Triniti Investama Berkat (Bitocto).

Baca juga:Ini 14 Aturan Teknis PPN dan Aset Kripto

Berbeda dengan platform luar yang cenderung bangkrut, platform dalam negeri ini masih adem ayem saja di tengah menurunnya harga kripto. Bahkan, beberapa ada yang kian berkembang.

COO Tokocrypto Teguh Kurniawan Harmanda mengatakan pertumbuhan industri kripto di saat market bearish ini masih cukup baik. Menurutnya, masyarakat Indonesia masih melihat investasi kripto sebagai sesuatu yang menjanjikan di masa depan.

Selain itu, model bisnis di industri kripto di Indonesia sudah mulai berkembang. (cnn/hm06)

Related Articles

Latest Articles