Sunday, July 12, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Dampak Jangka Panjang Keracunan Makanan

Mistar.idRabu, 1 Oktober 2025 pukul 05.30 WIB
dampak_jangka_panjang_keracunan_makanan

Ilustrasi. (Foto: Canva/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Meski kerap dianggap ringan, kasus keracunan makanan bisa menimbulkan risiko serius bagi kesehatan bila terjadi berulang. Sebagian besar kasus memang hanya menimbulkan gejala seperti mual, muntah, pusing, atau diare. Namun, infeksi tertentu dapat meninggalkan dampak kronis.

“Kalau bisa jangan sampai terjadi keracunan makanan, apalagi berulang, karena ada konsekuensi jangka panjangnya,” ujar Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Ari Fahrial Syam Sp.PD-KGEH, di Jakarta, dilansir dari Kompas, Rabu (1/10/2025).

Menurut Ari, salah satu komplikasi yang dapat muncul adalah sindrom iritasi usus besar (Irritable Bowel Syndrome/IBS). Infeksi bakteri berat dapat merusak saraf dan lapisan usus secara permanen, sehingga timbul gejala kronis berupa sakit perut berulang, kembung, hingga perubahan pola buang air besar. Bakteri yang kerap memicu kondisi ini antara lain Campylobacter jejuni, Salmonella, Shigella, dan E. coli.

Ia juga menambahkan, peradangan usus berulang berpotensi meningkatkan risiko kanker kolorektal di masa depan.

“Ketika peradangan terus-menerus, struktur dinding usus dapat berubah dan berujung pada keganasan,” jelasnya.

Selain itu, infeksi E. coli tertentu dapat memicu komplikasi berat berupa gagal ginjal. Racun bakteri merusak pembuluh darah kecil di ginjal dan sel darah merah, hingga menyebabkan gagal ginjal akut.

Meski efek jangka panjang tidak dialami semua orang, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan sistem kekebalan lemah memiliki risiko lebih tinggi.

Karena itu, Ari menegaskan pentingnya pencegahan dengan menjaga kebersihan makanan sejak pemilihan bahan, pengolahan, hingga penyajian.[]



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN