19.3 C
New York
Sunday, April 21, 2024

Dipenggal Dan Dimutilasi, 79 Napi Tewas Akibat Kerusuhan Penjara Di Ekuador

Quito, MISTAR.ID

Kerusuhan berdarah yang terjadi di tiga penjara di Ekuador merenggut jiwa yang tak sedikit. Sebanyak 79 napi tewas dalam kerusuhan di berbagai penjara di Ekuador, diantaranya akibat dipenggal dan dimutilasi.

Salah satu kerusuhan paling berdarah tersebut memaksa pemerintah Ekuador menerjunkan ratusan polisi dan tentara. Media lokal memberitakan, kericuhan terjadi salah satu bagian penjaga dengan pengamanan maksimum di tiga kota. Kerusuhan di antara narapidana itu dipicu oleh rivalitas geng yang tengah berusaha mendapatkan pengaruh di penjara.

Pihak berwajib Ekuador menerangkan, pertikaian itu dimulai pada Senin malam waktu setempat (22/2/21), dipicu oleh pencarian senjata. Dinas yang mengelola penjara menjelaskan dari 79 napi yang tewas, 37 di antaranya ditemukan di kota pesisir Guayaquil.

Baca juga: Tiga Penjara Di Ekuador Rusuh, 60 Narapidana Tewas

Kemudian 34 narapidana terbunuh di lembaga pemasyarakatan Cuenca, dan delapan sisanya di penjara kota Latacunga. Sayap penjara dengan keamanan maksimum biasanya diperuntukkan bagi tahanan kasus pembunuhan, perdagangan narkoba, hingga penyiksaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kerusuhan di penjara, yang seharusnya menampung 27.000 namun harus menjaga 38.000 napi, relatif sering di Ekuador. Dilansir media, Rabu (24/2/21), sekitar 70 persen dari populasi penjara berada di kota yang menjadi lokasi kejadian.

Pada Selasa (23/2/21), tayangan televisi menunjukkan sejumlah tahanan meloncati tembok dan ada yang berusaha membuka pintu, namun dicegah militer. Sejumlah foto maupun video yang beredar di media sosial menunjukkan napi ada yang dipenggal dan dimutilasi.

Baca juga: Corona Ciptakan Kota Mayat di Ekuador

Pakar keamanan Ricardo Camacho mengatakan, akar gesekan dipicu kematian seorang pemimpin kriminal pada Desember 2020. Kematian itu menyebabkan geng besar terlibat kericuhan untuk mendapatkan monopoli kekuasaan di dalam penjara.

“Rivalitas itu menyebabkan ada tahanan yang dipenggal, dimutilasi, maupun jantungnya diambil. Sesuatu yang belum pernah kita lihat,” kata Camacho. Dia menerangkan para narapidana mempunyai waktu beberapa jam untuk bertindak sesuka hati, sebelum polisi datang dan mengendalikan situasi. (kompas/hm09)

Related Articles

Latest Articles