13.9 C
New York
Friday, April 12, 2024

Menyingkap Rahasia Lubang Gravitasi di Samudra Hindia

Jakarta, MISTAR.ID

Berjibun misteri terpendam di Samudra Hindia, salah satunya adalah lubang raksasa yang dikenal merupakan lubang gravitasi.

Titik lubang raksasa itu tepat di Samudra Hindia atau berlokasi di antara benua Australia, Asia dan Afrika. Tahapan terjadinya sebab terdapat tarikan gravitasi bumi yang lebih lemah.

Keadaan itu memicu penurunan permukaan laut lebih dari 100 meter. Anomali ini sudah membingungkan para ahli geologi, sebab jangka waktu terjadinya cukup lama.

Baca juga:China Kian Aktif, Samudera Hindia Arena Geopolitik Dunia

Hanya para ahli menyatakan, sudah mendapati penjelasan ilmiah atas pembentukannya, yakni bersumber dari gumpalan magma dalam bumi. Pembentuknya sama dengan material terciptanya gunung berapi.

Times Travel melansir, pada Senin (1/4/24), bantuan teknologi super komputer dipakai dalam mengkaji fenomena ini untuk menyimulasikan peluang evolusi wilayah tersebut, dengan menelusuri sampai 140 juta tahun lalu. Hasilnya disimpulkan dalam sebuah riset terkini yang dimuat di jurnal Geophysical Research Letters.

Konstruksi bumi yang tak beraturan dan perbedaan kepadatan dunia memberikan pengaruh krusial pada fitur permukaan dan tarikan gravitasinya. Sebagaimana dikatakan Attreyee Ghosh, ahli geofisika dan profesor di Pusat Ilmu Bumi di Institut Sains India, variasi kepadatan di seluruh planet secara langsung mempengaruhi geoidnya, menentukan fase hipotesis bahwa air akan mencapai keseimbangan di permukaan di bawah permukaan bumi.

Lubang raksasa atau lubang gravitasi itu pun secara resmi disebut geoid rendah Samudera Hindia. Fenomena ini sebagai contoh anomali gravitasi paling signifikan di daerah itu.

Baca juga:Puing-puing Roket Long March Jatuh di Samudra Hindia

Karena membentuk depresi melingkar diawali dari ujung selatan India dan mencakup sekitar 1,2 juta mil persegi. Anomali ini perdana sekali diidentifikasi oleh ahli geofisika Belanda, Felix Andries Vening Meinesz pada tahun 1948 selama survei gravitasi dan masih belum bisa dijelaskan secara mendetail.

Ghosh bersama timnya melaksanakan simulasi komputer dengan rentang waktu 140 juta tahun, mengamati pergerakan lempeng tektonik dan magma di dalam mantel.

Enam dari 19 simulasi mencuat geoid rendah yang sama dengan di Samudera Hindia. Aspek utama kesamaan dalam model ini yaitu keberadaan gumpalan magma, dipercaya bertanggung jawab atas pembentukan lubang gravitasi dari hilangnya lautan purba sejalan pergeseran daratan India dan akhirnya bertubrukan dengan Asia jutaan tahun yang lalu.

Hukum geoid masih belum bisa dipastikan ke depannya. Proses ini terbentuk sekitar 20 juta tahun lalu dan mampu bertahan tanpa batas waktu atau menghilang tergantung pada pergerakan anomali massa bumi.

Baca juga:China, Rusia dan Afsel akan Gelar Latihan di Samudra Hindia

Huw Davies sebagai Profesor Universitas Cardiff menilai, studi itu menarik dan percaya bakal merangsang penyelidikan lebih lanjut. Tetapi Alessandro Forte, Profesor geologi di Universitas Florida, membeberkan kebimbangan tentang strategi pemodelan penelitian dan perbedaan antara geoid yang diprediksi dan yang diamati.

Ghosh membenarkan adanya keterbatasan dalam simulasi, tetapi Ghosh tetap yakin pada penjelasan keseluruhan fenomena ‘lubang gravitasi’ tersebut. (sdnws/hm16)

Related Articles

Latest Articles