25.2 C
New York
Thursday, July 25, 2024

Pemko Medan Komitmen Anggaran dalam Memperkecil Angka Stunting

Medan, MISTAR.ID

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan, Topan Ginting menuturkan, permasalahan stunting merupakan masalah nasional.

Menurutnya, stunting menjadi program prioritas Presiden dan Wakil Presiden yang harus dipastikan berjalan.

Kota Medan sendiri, dijelaskan Topan, tetap konsisten dalam menjalankan program prioritas Presiden tersebut.

Baca juga:Deputi PMPP Setwapres Meminta Seluruh Pihak Mencegah Terjadi Stunting Baru

“Ada beberapa kegiatan yang salah satunya orang tua asuh dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terhadap anak-anak kita yang mungkin dianggap masih tinggi badannya tidak mencukupi. Dan, pencegahan stunting menjadi agenda utama,” ujarnya, pada Selasa (25/6/24) dalam pemantauan, pengukuran dan intervensi serentak percepatan penurunan stunting di Jalan Mustofa, Kecamatan Medan Timur.

Bahkan komitmen anggaran bersama Bappeda juga dilakukan untuk memperkecil angka stunting di Kota Medan. Dimulai dari pos-pos gizi dan Posyandu yang setiap bulan dilaksanakan.

“Ini kegiatan yang rutin kami lakukan dan peduli terhadap program pengentasan stunting,” sebut Pj Sekda.

Baca juga:Rembuk Stunting, Bupati Humbahas Utamakan Intervensi

Pemko Medan juga telah melakukan sensus dalam menurunkan stunting di Kota Medan yang saat ini hanya tinggal tersisa 208 orang anak saja.

Di lokasi yang sama, Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat, Helena Rugun Nainggolan menyatakan, beberapa kecamatan sudah mencapai nol kasus stunting.

“Saat ini capaian kita untuk pemantauan, pengukuran dan intervensi serentak percepatan penurunan stunting di Kota Medan sudah 91,4 persen. Artinya hampir 100 persen,” jelasnya.

Baca juga:Pemko MedanAsesmen Audit Kasus Stunting Kota Binjai Tahap I Tahun 2024, Wali Kota: Harus dituntaskan

Sejauh ini, kendala yang dialami pihaknya kurangnya data jejaring. Lantaran di Puskesmas, Posyandu dan Dinas Pendidikan (Disdik) sudah didatangi oleh timnya.

“Tapi kadang anak yang sehat tidak ke Posyandu untuk melakukan pemeriksaan melainkan ke Klinik atau Rumah Sakit (RS) langganannya. Maka data jejaring kita kurang dan perlu kolaborasi lagi ke Klinik dan RS,” pungkasnya. (anita/hm16)

Related Articles

Latest Articles