28.2 C
New York
Monday, July 15, 2024

Warisan Tradisi Jawa Deli: Ketoprak Dor, Tragedi Dibalut Komedi

Deli Serdang, MISTAR.ID

Ketoprak Dor adalah seni pertunjukan rakyat warisan tradisi Jawa Deli yang nyaris punah, bergaya opera dengan ciri khas musik dan lakon juga percampuran beberapa budaya. Langen Setyo Prana Jaya di Jalan Musyawarah, Desa Seantis, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, merupakan salah satu kelompok Ketoprak Dor yang masih bertahan hingga kini.

Ketua kelompok sekaligus sinden ronggeng, Iin (50) menjelaskan, seni pertunjukan ini lahir dari ketidakadilan. Pada abad ke-19, di wilayah Deli, Belanda membuat perkebunan tembakau dan merekrut pekerja dari berbagai bangsa termasuk Jawa, India, dan Tiongkok sebagai kuli kontrak. Tak seperti kuli dari daerah lain, perlakuan tuan kebun Belanda terhadap kuli dari Jawa sangat berbeda, sangat ditekan dan dianaktirikan.

“Rasa frustasi dan rindu kampung membuat para kuli kontrak ini membuat hiburan sendiri sebagai pelipur,” kata Iin.

Dari rasa sakit menjadi tari, rasa rindu menjadi tembang, dan rasa terasing menjadi lakon, lahirlah seni pertunjukan baru yang unik, Ketoprak Dor. Langen Setyo Prana Jaya sendiri berdiri pada tahun 2019. Walau terbilang baru, kelompok ini beranggotakan orang-orang yang sudah sarat pengalaman di dunia kesenian, khususnya Ketoprak Dor. Mereka berasal dari masing-masing grupnya terdahulu. Berjumlah total 15 orang, dari pelakon, pemusik, dan penyanyi.

“Sebelumnya beberapa dari kelompok Langen JeDe Rahayu. Sepeninggal Yono USU, kami sepakat berkumpul dan membuat kelompok baru untuk terus melestarikan budaya ketoprak ini. Dengan wadah baru diharapkan punya daya juang baru dan peluang baru juga,” ujarnya, kemarin.

Baca Juga : Ditampilkan di Jepang, Ketoprak Berjudul “Sekar Pembayun” Memperkenalkan Tokoh Yogyakarta

Umumnya Ketoprak Dor menampilkan lakon dagelan (humor), tragedi dibalut komedi. Lakon yang dibawakan beragam, mulai dari hikayat-hikayat dari tanah Jawa dan Deli, hingga cerita keseharian masyarakat, terutama persoalan para kuli kontrak di perkebunan.

Musiknya juga punya ciri tersendiri, penggabungan langgam Melayu dan Jawa. Melalui keyboard, menggema ketukan dan nada yang seolah menari. Hal itu diungkapkan Saturi (60), pemain keyboard kelompok ini.

“Ciri musiknya penggabungan beberapa langgam. Untuk jembatannya, mengambil ketukan dari Serampang Dua Belas,” ungkapnya.

Saat pentas, ada beberapa alat musik yang biasa dipakai sebagai pengiring, yakni keyboard, alat tiup dan perkusi dari tanjidor, balok kayu berlubang, dan akordion atau harmonium.

Melestarikan warisan budaya tidak mudah, bagi Iin, selain berusaha menghidupi kembali warisan tersebut, harus berpikir juga bagaimana kesenian bisa menghidupi para senimannya. Di tengah derita, melakon lewat tembang, tari, dan musik, menertawai derita itu sendiri.

Syahrial Siregar
Syahrial Siregar
Alumni STIK-P Medan. Menjadi jurnalis sejak 2008 dan sekarang redaktur untuk portal mistar.id

Related Articles

Latest Articles